Mitos etnik sumuri Papua Barat dalam lima narasi lisan: analisis strukturalisme, pascakolonial, dan ekokritik atas suara leluhur, tanah, dan perlawanan

Abstract

Penelitian ini mengkaji lima narasi lisan etnik Sumuri di Papua Barat untuk menjelaskan cara mitos merepresentasikan hubungan dengan leluhur, struktur sosial, perlawanan kultural, dan relasi manusia dengan alam. Berbeda dari kajian terdahulu yang cenderung membahas struktur, fungsi sosial, atau dimensi ekologis secara terpisah, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan mengintegrasikan strukturalisme Lévi-Strauss, kritik pascakolonial, dan ekokritik. Data berupa dokumentasi tertulis atas lima tradisi naratif Sumuri dianalisis melalui pembacaan berulang, pengodean unsur naratif dan oposisi biner, identifikasi relasi kuasa serta suara kelompok marginal, analisis relasi manusia-nonmanusia, perbandingan lintas narasi, dan sintesis interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos Sumuri bekerja sebagai sistem pengetahuan lokal yang menghubungkan manusia, leluhur, tanah, dan kosmologi. Pada mitos Nenek May, misalnya, ritual pemberian makanan kepada leluhur menegaskan keterhubungan antara dunia terlihat dan tidak terlihat sekaligus menjaga kohesi komunitas. Lima narasi juga merepresentasikan sistem kekerabatan, tabu, dan ritual; agensi melalui kecerdikan dan strategi budaya; serta etika ekologis yang memandang tanah dan makhluk nonmanusia sebagai bagian dari hubungan sosial-spiritual. Konvergensi ketiga pendekatan memperlihatkan bahwa struktur naratif, dinamika kuasa, dan kesadaran ekologis tidak berdiri sendiri. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi dokumentasi berbasis komunitas, pembelajaran budaya lokal, penguatan pewarisan antargenerasi, dan kebijakan pelestarian tradisi lisan Sumuri yang menghormati kepemilikan pengetahuan masyarakat.

Keywords
  • Mitos Sumuri, Tradisi Lisan, Strukturalisme, Pascakolonial, Ekokritik, Pengetahuan Lokal, Papua Barat
How to Cite
Satriani, S. (2026). Mitos etnik sumuri Papua Barat dalam lima narasi lisan: analisis strukturalisme, pascakolonial, dan ekokritik atas suara leluhur, tanah, dan perlawanan. Southeast Asian Journal of Technology and Science, 7(1), 308–315. https://doi.org/10.29210/810712500
References
  1. Asnawi, A. (2020). Kategori Dan Fungsi Sosial Teks Cerita Rakyat Masyarakat Banjar Hulu: Sebagai Pengukuh Warisan Kebudayaan Lokal Bangsa. Jurnal Sastra Indonesia, 9(3), 212–221. Https://Doi.Org/10.15294/Jsi.V9i3.41939
  2. Barata, N. T. (2013). Menelisik Mitos Dewi Lanjar Dan Mitos Ratu Kidul Dengan Perspektif Antropologi-Struktural. Forum Ilmu Sosial, 40(2). Https://Doi.Org/10.15294/Fis.V40i2.5362
  3. Bhabha, H. K. (1994). The Location Of Culture. Routledge.
  4. Bird-David, N. (1999). Animism Revisited: Personhood, Environment, And Relational Epistemology. Current Anthropology, 40(S1), S67–S91. Https://Doi.Org/10.1086/200061
  5. Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inquiry And Research Design: Choosing Among Five Approaches (4th Ed.). SAGE.
  6. Descola, P. (2013). Beyond Nature And Culture (J. Lloyd, Trans.). University Of Chicago Press. (Original Work Published 2005)
  7. Douglas, M. (1966). Purity And Danger: An Analysis Of Concepts Of Pollution And Taboo. Routledge & Kegan Paul.
  8. Endraswara, S. (2013). Metodologi Penelitian Sastra. CAPS.
  9. Endraswara, S. (2016). Ekokritik Sastra: Konsep, Teori, Dan Terapan. Morfalingua.
  10. Faruk. (2012). Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal. Pustaka Pelajar.
  11. Fauzan, A., & Aziz, L. A. (2020). Kearifan Lokal Tentang Mitigasi Bencana Di Kabupaten Lombok Utara Dalam Mitos Telaga Lindur. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, 6(2), 184–190. Https://Doi.Org/10.23887/Jiis.V6i2.29941
  12. Garrard, G. (2012). Ecocriticism (2nd Ed.). Routledge.
  13. Geertz, C. (1973). The Interpretation Of Cultures. Basic Books.
  14. Ingold, T. (2000). The Perception Of The Environment: Essays On Livelihood, Dwelling And Skill. Routledge.
  15. Kohn, E. (2013). How Forests Think: Toward An Anthropology Beyond The Human. University Of California Press.
  16. Lefaan, A. (2024a). Cerminan Perilaku Budaya Dalam Kisah Peradaban Etnik Sumuri: Kajian Karakter Dalam Sastra Lisan Etnik Sumuri. Cakrawala Indonesia.
  17. Lefaan, A. (2024b). Ekspresi Budaya Etnik Sumuri Dalam Sastra Lisan: Memahami Eksistensi Dan Filosofi Kehidupan Etnik Sumuri. Cakrawala Indonesia.
  18. Lefaan, A., & Purnomo, T. (2024). Revitalisasi Sastra Lisan Sumuri: Merajut Kisah Perjalanan Peradaban Etnik Sumuri. Cakrawala Indonesia.
  19. Lévi-Strauss, C. (1963). Structural Anthropology. Basic Books.
  20. Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic Inquiry. SAGE.
  21. Malatuny, Y. G., & Yaroseray, H. N. (2026). Indigenous Ecological Wisdom As Civic Virtue: The Tiaytiki Practice In Papua, Indonesia. Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan, 23(1), 196–208. Https://Doi.Org/10.21831/Jc.V23i1.89865
  22. Malinowski, B. (1926). Myth In Primitive Psychology. Norton.
  23. Malinowski, B. (1948). Magic, Science And Religion And Other Essays. The Free Press.
  24. Manuaba, I. B. P., Dewi, T. K. S., & Kinasih, S. E. (2012). Mitos, Masyarakat Adat, Dan Pelestarian Hutan. Atavisme, 15(2), 235–246. Https://Doi.Org/10.24257/Atavisme.V15i2.63.235-246
  25. Nurelide. (2020). Ekologi Sastra Lisan Dalam Cerita Rakyat Lae Angkat Di Tanah Mungkur. Madah: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 11(1), 57–68. Https://Doi.Org/10.31503/Madah.V11i1.229
  26. Ratna, N. K. (2015). Teori, Metode, Dan Teknik Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar.
  27. Ricoeur, P. (1976). Interpretation Theory: Discourse And The Surplus Of Meaning. Texas Christian University Press.
  28. Rosa, S. (2017). Mitos Bundo Kanduang Sebagai Tirai Nalar Orang Minangkabau Atas Dunianya. Jurnal IKADBUDI, 5(12). Https://Doi.Org/10.21831/Ikadbudi.V5i12.12313
  29. Said, E. W. (1978). Orientalism. Pantheon Books.
  30. Sari, E. R., Suryanto, E., & Wardani, N. E. (2025). Kearifan Ekologis Dalam Cerita Legenda Pemandian Kendat Di Boyolali: Kajian Ekokritik. Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, 25(2), 157–166. Https://Doi.Org/10.21831/Hum.V25i2.81119
  31. Scott, J. C. (1985). Weapons Of The Weak: Everyday Forms Of Peasant Resistance. Yale University Press.
  32. Spivak, G. C. (1988). Can The Subaltern Speak? In C. Nelson & L. Grossberg (Eds.), Marxism And The Interpretation Of Culture (Pp. 271–313). University Of Illinois Press.
  33. Viveiros De Castro, E. (1998). Cosmological Deixis And Amerindian Perspectivism. The Journal Of The Royal Anthropological Institute, 4(3), 469–488. Https://Doi.Org/10.2307/3034157
  34. Yektiningtyas, W. (2019). Igniting Folktales As Children’s Learning Sources In Sentani, Jayapura, Papua. Litera, 18(1), 105–117. Https://Doi.Org/10.21831/Ltr.V18i1.18841
  35. Yektiningtyas, W., Ohee, H. L., Haay, C. S. A., & Korwa, S. R. (2023). Merawat Lingkungan Berbasis Folklor Sentani Bagi Anak-Anak Di Kampung Yokiwa, Kabupaten Jayapura, Papua. Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA Dan Pendidikan MIPA, 7(2), 158–168. Https://Doi.Org/10.21831/Jpmmp.V7i2.62039
  36. Yektiningtyas, W., & Silalahi, E. (2020). Fables As Media Of Environmental Education For Sentani Children In Jayapura Regency, Papua. Celt: A Journal Of Culture, English Language Teaching & Literature, 20(2), 235–255. Https://Doi.Org/10.24167/Celt.V20i2.2867
  37. Yektiningtyas-Modouw, W., & Karna, S. R. W. (2013). Using Folktales To Strengthen Literacy In Papua. Australian And International Journal Of Rural Education, 23(3), 83–93. Https://Doi.Org/10.47381/Aijre.V23i3.672